|
Freight Forwarder hingga saat ini belum ada padanan kata nya dalam bahasa Indonesia. Freight forwarder merupakan salah satu mata rantai utama dalam jalur ekonomi suatu bangsa. Jika Freight forwarder dalam suatu negara lemah, maka ini menunjukkan kelemahan suatu bangsa dalam menunjang kegiatan perekonomiannya.
Freight Forwarder hingga saat ini belum ada padanan kata nya dalam bahasa Indonesia. Freight forwarder merupakan salah satu mata rantai utama dalam jalur ekonomi suatu bangsa. Jika Freight forwarder dalam suatu negara lemah, maka ini menunjukkan kelemahan suatu bangsa dalam menunjang kegiatan perekonomiannya. Kita ambil contoh ; di Singapura, negara kota yang hanya terdiri dari 4 juta jiwa memiliki hampir 20,000 perusahaan freight forwarder. Hong Kong, yang hanya terdiri dari 6 juta jiwa, memiliki hampir 50,000 perusahaan freight forwarder. Sementara di Jakarta sebagai ibukota negara dengan populasi 8 juta jiwa, hanya memiliki 3000 freight forwarder. Itupun masih banyak didominasi oleh freight forwarder asing. Freight forwarder merupakan suatu usaha padat modal dan padat karya dengan tingkat ketelitian dokumen yang tinggi serta kemampuan manajemen yang canggih. Kesalahan pembuatan dokumen dapat menyebabkan barang tidak bisa keluar dari bea cukai atau pembayaran L/C ditolak oleh bank. Jika kemampuan melakukan koordinasi antara banyak pihak kurang rapi, akan terjadi keterlambatan pengiriman, ketinggalan schedule pelayaran / penerbangan yang kemudian mengakibatkan timbulnya biaya operasional yang tinggi. Akibat demikan besar dan luasnya usaha freight forwarder ini, hingga kini belum ada satupun freight forwarder di dunia yang mampu mendominasi begitu banyak pekerjaan freight forwarder. Misalnya, mereka hanya bisa mengambil spesialisasi jasa pengiriman udara saja, atau sebagai konsolidator barang kecil saja, atau sebagai spesialis break bulk cargo saja. Terkadang ada suatu freight forwarder bisa menguasai 4 ~ 5 jenis spesialisasi saja dan itupun sudah luar biasa sekali besarnya. Itulah sebabnya hingga saat ini, tidak ada satupun forwarder di dunia yang mampu menjadi pemimpin pasar. Selain dibutuhkan permodalan yang luar biasa besar, juga dibutuhkan banyak sekali karyawan yang trampil / ahli. Dengan demikian, berarti terbuka peluang besar bagi setiap pengusaha untuk berinvestasi di bidang jasa usaha freight forwader ini. Ada beberapa bagian bidang usaha di freight forwarder yang tidak membutuhkan modal besar. Kita ambil contoh sebagai konsolidator. Artinya, freight forwarder tersebut mengumpulkan barang-barang kecil, lalu setelah banyak dikumpulkan dalam satu kontainer. Pembayaran umumnya dilakukan dengan tunai, karena memang bukan transaksi besar bagi setiap konsumen. Satu kontainer bisa berisikan barang milik dari 10~15 orang. Bagi orang yang ingin kirim barang hanya sebanyak 2 M3 ke Singapura, tentu rugi besar jika harus menyewa satu kontainer. Satu kontainer bisa berisikan 60 M3. Jadi pemilik barang akan menyerahkan pada freight forwarder untuk dicarikan pemilik barang lain yang juga ingin kirim barang ke Singapura dalam jumlah kecil. Freight forwarder tersebut akan menyewa gudang untuk dijadikan stasiun barang. Modal kerja usaha yang diperlukan hanya Rp 10 juta,- saja. Sewa kantor kecil saja Rp 1juta,-/bulan Perabot kantor Rp 5 juta,- selama nya Menyewa gudang Rp 1 juta,- per minggu/kontainer Sewa kontainer dan biaya freight ke Singapura Rp 2 juta,-/minggu / kontainer Biaya operasional Rp 1 juta,-/minggu/kontainer Karena pembayaran biasanya tunai, maka uang yang diterima adalah harga jual US$ 5,-/M3 x 60M3 = US$ 300 / minggu / kontainer. Dengan asumsi kurs Rp 9.000,- per US$ 1,-, maka pendapatan kotor adalah Rp 2,7 juta/minggu/kontainer Dokumen fee Rp 100 ribu/dokumen x 10 dokumen per kontainer = Rp 1 juta /minggu/kontainer. Total pendapatan kotor adalah Rp 3,7 juta/minggu/kontainer Jika dalam seminggu kita dapat mengumpulkan barang sebanyak 2~3 kontainer, berarti pendapatan kotor per minggu adalah Rp 7.5 juta ~ Rp 10 juta,- Pendapatan satu minggu bisa menutup biaya operasional kantor sebulan. Itu jika hanya untuk rute Jakarta - Singapura. Bayangkan jika ada freight forwarder yang bisa mencapai 8 kontainer per minggu untuk dikirim ke Dubai. Saya tidak bisa membayangkan ada beberapa freight forwarder di Tanah Abang yang pnya rute ke Nigeria, di mana mereka bisa kirim dua kali seminggu, masing-masing 2~3 kontainer setiap kali kirim dengan harga jual US$ 100/M3. Kira-kira berapa besar keuntungan yang mereka terima per bulan nya. Dan, ... jangan lupa,.. ini baru investasi kecil di freight forwarder, karena pembayaran pada umumnya tunai di bidang konsolidator seperti ini. Selamat mencoba, ... !!! (Harry Gozali)
|