|
Ada cara lain untuk mengembangkan harta kekayaan kita melalui kegiatan sosial. Salah satunya adalah melalui olahraga. Semua jenis turnamen olahraga bisa mendatangkan uang masukan tambahan. Dalam artikel ini, penulis mengambil contoh olahraga Bridge.
Ada cara lain untuk mengembangkan harta kekayaan kita melalui kegiatan sosial. Salah satunya adalah melalui olahraga. Semua jenis turnamen olahraga bisa mendatangkan uang masukan tambahan. Dalam artikel ini, penulis mengambil contoh olahraga Bridge. Untuk dapat menyelenggarakan turnamen Bridge, kita harus terlebih dahulu melihat kalender turnamen Gabsi (Gabungan Bridge Seluruh Indonesia). Kemudian kita mencari waktu yang tepat yang disesuaikan dengan kalender Gabsi. Jika salah memilih waktu, dan bentrok dengan jadwal beberapa turnamen, maka kemungkinan turnamen yang kita selenggarakan bisa sepi peserta. Apalagi jika bentrok dengan kalender turnamen nasional / internasional seperti ; PORDA, PON, SEA Games, Adian Games, Olimpiade Bridge dll. Juga kita harus dapat melakukan lobby pada beberapa pemain nasional ternama agar mereka bisa ikut serta dalam turnamen yang kita selenggarakan tersebut. Jika perlu, kita dapat mengundang beberapa pemain internasional ternama. Ini semua tergantung dari pemasukan yang akan kita bahas bersama di bawah ini. Ada dua jenis turnamen Bridge, yaitu : 1). Turnamen pasangan 2). Turnamen beregu (Team) Turnamen pasangan biasanya kurang diminati, dan bisa diadakan sebagai turnamen tambahan dalam suatu turnamen beregu. Jadi peserta yang kalah di turnamen beregu, bisa masuk dalam turnamen pasangan. Berikut kalkulasi biaya : | 1). Sewa Aula Gedung | | Rp 20 juta,- | | 2). Mengundang Pemain Nasional | | Rp 20 juta ,- | | 3). Loyalti pada Gabsi | | Rp 15 Juta,- | | 4). Hadiah pada para pemenang | | Rp 25 juta,- | | 5). Biaya operasional | | Rp 25 juta ,- | Total biaya | | Rp 105 juta,- |
Untuk turnamen beregu, harga tiket suatu team adalah Rp 500.000,- Jika turnamen dihadiri oleh 150 team, maka pemasukan nya adalah Rp 75 juta ,- Turnamen hiburan untuk peserta yang kalah Rp 100.000,- per pasangan x 300 pasangan = Rp 30 juta ,- . Satu team terdiri dari 2 ~ 3 pasangan atau sekitar 4~6 orang. Mereka yang kalah akan ada 146 team, karena hanya ada 4 team yang masuk final tidak akan ikut turnamen pasangan. Dari 146 team x 2 pasangan = 292 pasangan. Dalam hal ini, kita asumsikan yang ikut turnamen pasangan adalah 300 pasang. Pemasukan kotor adalah Rp 105 juta,- dan itu di luar dari sponsor / iklan yang ada. Pemasukan dari sponsor berkisar antara Rp 20 juta,- ~ Rp 35 juta,- Return yang didapat berkisar antara 20% ~ 25%, karena jika sponsor yang didapat bisa lebih besar, berarti kita akan mengundang lebih banyak pemain nasional ternama, bakan mungkin pemain internasional ternama, dan tempat turnamen nya pun bisa dilaksanakan di ballroom hotel. Otomatis, sumbangan kita pada Gabsi akan meningkat. Jadi persentase keuntungan tetap sekitar 20% ~ 25% dari modal yang dikeluarkan. Satu hal yang menarik dari mengadakan turnamen Bridge. Semua pembayaran peserta turnamen diterima tunai pada saat pendaftaran di hari H. Dana sumbangan dari sponsor juga telah diterima lunas seminggu sebelum hari-H turnamen. Contoh artikel ini adalah mengadakan turnamen Bridge. Namun jika dalam sebulan kita mengadakan 2 kali turnamen dari berbagai jenis olah raga yang ada, maka kalender event turnamen yang kita buat sendiri selama setahun akan padat. Kita bisa mengharapkan ketika semakin maju usaha kita, maka setiap minggu kita dapat mengadakan turnamen. Jika setiap turnamen kita dapat mengambil keuntungan 20% ~ 25%, maka kekayaan kita di akhir tahun akan meningkat lebih dari 25%. Masih ingat time value of money ? Jadi kita bisa melakukan kegiatan sosial, mengembangkan olahraga nasional sambil juga mengembangkan harta kekayaan kita dan membuka lapangan kerja baru. (Harry Gozali)
|