Polling
Investasi apa yang anda miliki?
 
Opini





Saya lupa passwordnya?
Belum punya Username & Password? Daftar Baru!

Indonesia Joomla Topsites
Option strategies
Invest money

Adakah Efek Samping Resesi AS?

Sering kali kata resesi itu kita dengar. Isu resesi mungkin sudah menjadi perhatian banyak kalangan saat ini. Namun apa sebenarnya arti resesi dan adakah efek samping di balik terjadinya resesi? Kata resesi dipergunakan untuk menjelaskan situasi ekonomi suatu negara yang mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi.

Sering kali kata resesi itu kita dengar. Isu resesi mungkin sudah menjadi perhatian banyak kalangan saat ini. Namun apa sebenarnya arti resesi dan adakah efek samping di balik terjadinya resesi? Kata resesi dipergunakan untuk menjelaskan situasi ekonomi suatu negara yang mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi. IMF menggunakan patokan pertumbuhan ekonomi di bawah 3% sebagai tanda resesi. Resesi ekonomi yang berlangsung lama disebut depresi ekonomi. Penurunan drastis tingkat ekonomi (biasanya akibat depresi parah, atau akibat hiperinflasi) disebut kebangkrutan ekonomi (ekonomi collapse).

Salah satu bukti nyata dampak negatif dari gejala resesi ekonomi yang terjadi di AS adalah rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, 22 Januari 2008, lalu. Di tengah situasi politik dan ekonomi Indonesia yang sangat kondusif, indeks saham tiba-tiba rontok hingga 7,7% atau 191,35 poin ke posisi 2.294,52. Indeks malah sempat tergerus hingga 10% atau lebih dari 250 poin ke posisi 2.231,48 dan sekaligus merupakan catatan koreksi terburuk yang pernah dialami IHSG sepanjang sejarah bursa saham Indonesia.

Melemahnya indeks saham di Indonesia dan sebagian besar bursa negara-negara di dunia, kemungkinan disebabkan karena terjadinya resesi ekonomi di AS. Walaupun sesungguhnya sangatlah tidak relevan menghubungkan penurunan indeks saham di bursa Jakarta dengan krisis subprime mortgage. Hal ini dikarenakan beberapa hal:

  1. Indonesia tidak terkait secara langsung dengan krisis subprime mortgage, dimana kredit rumah (KPR) di Indonesia masih dalam kondisi terkendali dan resiko masih bisa diperhitungkan.
  2. Adanya larangan bank-bank di Indonesia membeli aset berbasis subprime mortgage AS.

Tingginya return di tahun 2007 mengakibatkan banyak investor berinvestasi di pasar saham Indonesia karena mereka melihat bahwa pertumbuhan di Indonesia lebih menjanjikan dibandingkan investasi di AS dan Eropa. Namun kondisi bursa Indonesia yang masih sangat sensitif terhadap sentimen dan persepsi negatif didukung perilaku para pelaku pasar yang sangat mengandalkan margin trading, maka isu yang seharusnya tidak berpengaruh tetap saja menjadi pertimbangan para pelaku pasar dalam melakukan transaksi.

Di samping itu kondisi harga minyak dunia yang terus meningkat membuat rakyat Indonesia gelisah akan kenaikan harga BBM. Perusahaan-perusahaan banyak yang melakukan PHK. Harga komoditas yang semakin meningkat memicu kenaikan harga pangan. Otomatis utang luar negeri pun ikut meningkat. Hal-hal ini dapat membuat nilai tukar Rupiah berpotensi semakin melemah sehingga membuat para investor asing siap-siap angkat kaki dari pasar finansial Indonesia. Maka dari itu diharapkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi meskipun terdapat ancaman resesi. (Yunita Anwar)


Beri komentar:
Nama

Email

Komentar

Artikel lainnya dikategori ini:

WealthIndonesia.com © 2012.