|
Memiliki Usia Sangat Tua. Selain itu, pengoleksian barang sering juga didasarkan karena umurnya. Banyak orang yang mengoleksi barang karena barang tersebut memiliki usia yang cukup tua. Bahkan, makin tua usia barang tersebut, bisa jadi akan makin mahal harga barang tersebut. Apa contoh barang-barang yang dikoleksi karena usianya? Beberapa diantaranya adalah guci antik, meja antik, kursi antik, dan lain sebagainya.
Namun demikian perlu diketahui bahwa tidak semua barang-barang yang berusia tua memiliki nilai khusus dan dikoleksi oleh orang banyak, mengingat bahwa itu semua sangat tergantung pada persepsi orang terhadap barang tersebut. Karenanya, dari beberapa macam anggapan terhadap nilai khusus tersebut, dibawah ini adalah contoh barang-barang yang bisa dikoleksi: a. Barang-barang seni (lukisan, patung) b. Barang-barang kerajinan (keramik, batik) c. Barang-barang aksesori (arloji) d. Barang-barang perhiasan (kalung, gelang) e. Barang-barang sejarah (benda peninggalan) Jadi pada prinsipnya, hampir semua barang bisa dikoleksi. Nah, barang-barang koleksi inilah yang bisa dijadikan investasi. BEDA KOLEKTOR DAN INVESTOR Investasi? Lho, jadi apa bedanya melakukan investasi dengan mengoleksi? Jelas beda. "Kolektor" adalah sebutan bagi orang yang gemar mengoleksi barang tertentu. Tujuannya mengoleksi barang adalah (mungkin) untuk kepuasan batin, gengsi, dianggap memiliki selera yang baik, atau apa pun itu. Seorang kolektor membeli barang untuk dimiliki kalau bisa selamanya. Sedangkan "Investor" adalah sebutan bagi orang yang mengoleksi barang hanya untuk dijual lagi demi mendapatkan keuntungan. Jadi, kalau kolektor membeli barang untuk dimiliki, sedangkan investor membeli barang untuk kemudian kelak bisa dijual kembali, bisa kepada kolektor atau sesama investor juga. Pendeknya, seorang kolektor adalah pembeli, sedangkan investor adalah orang yang berinvestasi. Bila tertarik untuk berinvestasi ke dalam barang-barang koleksi, di bawah ini adalah tips yang mungkin perlu diketahui : 1. Berinvestasilah ke dalam barang-barang yang memang dikenal dan kuasai seluk beluknya. Dengan demikian, bisa diketahui dengan pasti tentang segala macam hal yang menyangkut barang-barang koleksi tersebut, seperti berapa harga pantasnya, ke mana bisa menjualnya, di mana bisa membelinya, dan seterusnya. 2. Jangan jatuh cinta pada barang koleksi tersebut. Bila jatuh cinta pada barang koleksi tersebut, bisa-bisa akan berat hati bila ingin menjualnya kembali. Padahal bila orang tersebut adalah seorang investor, harus menjual barang koleksi tersebut kembali untuk mendapatkan keuntungan kan? INVESTASI MAHAL?
Banyak orang beranggapan bahwa investasi pada barang-barang koleksi adalah investasi yang tergolong mahal. Pernyataan itu tidak selalu benar. Jangan lupa bahwa setiap barang memiliki harga awal-nya sendiri. Sebuah perangko terbitan tahun 2000 yang sekarang ini berharga katakan Rp 1.000 dan sudah dipakai, bisa jadi 10 atau 20 tahun kelak menjadi barang koleksi yang bisa diperjualbelikan dengan harga ratusan ribu rupiah. Jadi pertanyaannya sekarang, pada harga berapa Anda membeli barang koleksi tersebut? Pada harga awalnya (ketika dia masih "murah"), atau pada harga yang memang sudah tinggi? Sekarang, bagaimana dengan barang-barang di sekitar kita? Bisa jadi barang-barang yang tadinya dipikir biasa saja, 10 atau 20 tahun kemudian menjadi tinggi sekali harganya karena barang tersebut memiliki nilai keindahan yang luar biasa. Siapa tahu? Jadi, pasang mata dan telinga, siapa tahu ada barang-barang tertentu di sekitar kita yang nantinya bisa berharga tinggi. Dan yang jelas, investasi pada barang-barang koleksi tidak selalu merupakan investasi mahal, karena hal itu sangat bergantung pada harga berapa membeli barang tersebut, apakah ketika harganya masih murah atau sudah mahal. Selamat berinvestasi pada barang-barang koleksi. (Yenny Salim) |