|
Mari kita lihat apa yang terjadi di Indonesia, skandal Bank Century – PT Antaboga Delta Sekuritas Indonesia (PT ADSI) & PT Signature Capital Indonesia (PT SCI). Kedua fund manager tersebut memasarkan reksa dana tanpa izin dari Bapepam dan Bank Century sebagai agen disinyalir tidak memiliki Waperd (Wakil Agen Penjual Reksa Dana). PT ADSI mayoritas sahamnya dimiliki oleh Robert Tantular (pendiri Bank Century) dan 7% saham Bank Century dimiliki oleh PT ADSI. Kedua perusahaan terafiliasi.
Nasabah Bank Century dibujuk untuk membeli reksa dana (ada juga discretionay fund) tersebut dengan mengalihkan dana dari tabungan/deposito yang ada. Mengingat PT ADSI dan Bank Century dimiliki oleh orang yang sama dan tawaran return yang sangat menggiurkan sebesar 13% untuk jangka waktu tiga bulan untuk minimum investasi Rp 2 Miliar maka para nasabah beramai-ramai membeli produk tersebut. Setiap bulan investor dibayarkan bunga akan tetapi pada saat jatuh tempo dana awal tidak dapat dicairkan. Ternyata dana tersebut tidak diinvestasikan ke dalam portofolio reksa dana, melainkan dilarikan oleh kedua fund manager tersebut tanpa kejelasan. Total dana yang digelapkan hampir Rp 1.5 Triliun. Setelah itu baru-baru terungkap lagi adanya penggunaan dana dan rekening nasabah (9.000 nasabah) untuk melakukan jual-beli saham dengan total nilai Rp 285 miliar oleh komisaris utama sekaligus pemegang saham utama PT Sarijaya Permana Sekuritas (PT SPS). PT SPS bergerak dalam investasi secara ritel dengan jumlah nasabah 13 ribu orang. Dana nasabah yang digunakan oleh Herman Ramli (komisaris & pemegang saham utama PT SPS) dengan harapan akan berlipat ganda ternyata tidak memberikan hasil yang diharapkan karena krisis global mengakibatkan nilai investasi saham terjun bebas sehingga dana yang diinvestasikan lenyap tinggal kertas dan hutang. PT SPS mengalami kesulitan likuiditas dan karena dana tersebut digunakan tanpa izin malah menjadi bumerang yang mengakibatkan Herman Ramli harus berurusan dengan polisi dan pengadilan. Apa penyebab terjadinya ketiga penipuan di atas? Krisis global yang mengakibatkan turunnya nilai investasi, tidak adanya regulasi oleh otoritas pasar modal atau keserakahan sekelompok orang? Krisis global memang membuat banyak investor menjadi buntung karena semua jenis investasi mengalami penurunan nilai yang sangat drastis. Inilah yang disebut risiko pasar. Risiko yang timbul akibat kebijakan pemerintah seperti perubahan suku bunga, nilai tukar mata uang asing dan hal-hal lain yang nilainya ditentukan oleh pasar seperti ekuitas dan komoditas. Hal ini membuat masyarakat mencairkan investasinya. Fund manager atau perusahaan sekuritas tidak memiliki likuiditas yang baik (penipuan dalam laporan keuangan) pasti akan gagal bayar apalagi yang tidak menggunakan dana tersebut sebagaimana mestinya. Umumnya jenis investasi yang ditawarkan pada ketiga kasus di atas adalah discretionary fund (kontrak pengelolaan dana) dan hedge fund. Hampir sama dengan reksa dana akan tetapi kedua jenis invetasi ini tidak diatur oleh otoritas pasar modal. Kontrak ini merupakan perjanjian investasi antara investor dan fund manager dengan janji memberikan sejumlah return atas sejumlah dana yang ditanamkan. Umumnya dana yang diinvestasikan untuk Discretionary Fund minimal Rp 500 juta dan US$ 1 juta untuk hedge fund. Bukan dana yang kecil. Dalam memilih perusahaan investasi, kita haruslah benar-benar teliti. Perusahaan tersebut haruslah terdaftar di Bapepam, laporan keuangan dan transaksi keuangan yang transparan. Jangan hanya melihat return yang ditawarkan. Biasanya fund manager yang nakal akan menggunakan kelemahan kita dengan menyatakan bahwa investasi mereka jual beli valas, future trading, yang semuanya dilakukan di luar negeri (off shores). Karena tahu masyarakat sangat awan akan investasi di luar negeri. Otoritas pasar modal hendaknya lebih berhati-hati dalam mengeluarkan izin bagi fund manager, perusahaan sekuritas beserta jenis produk yang dipasarkan. Memilih investasi sama halnya dengan memilih pasangan hidup, harus melihat bibit, bobot, bebet. Jangan hanya menilai dari penampilan tetapi periksa latar belakangnya, jangan-jangan penampilan yang mewah itu dibeli dengan berhutang yang harus kita tanggung sepanjang hidup kita. Mari kita belajar dari pengalaman-pengalaman yang sudah ada (ddws).
|