Polling
Investasi apa yang anda miliki?
 
Opini





Saya lupa passwordnya?
Belum punya Username & Password? Daftar Baru!

Indonesia Joomla Topsites
Option strategies
Invest money

Menilai Kinerja Reksa Dana yang Dimiliki maupun yang Akan Dibeli

Bagi para investor baru terasa amat sulit untuk memilih reksadana mana yang mempunyai performance yang terbaik, dan seringkali mereka hanya menerima informasi dari sang salesman reksadana atau menerima informasi dari media, tanpa mengetahui secara detail atau kemampuan untuk menganalisa sendiri.

Berikut ini tips-tips untuk menilai performance reksadana dihitung dari pertumbuhan NAB (Nilai Aktiva Bersih), berdasarkan:

1. Berdasarkan karakteristik dari jenis masing-masing:

Reksadana Pendapatan Tetap.
Oleh karena reksadana pendapatan tetap berisi portofolio 80% adalah efek hutang seperti SUN, Obligasi ritel (ORI) atau obligasi korporasi, maka tolok ukurnya adalah bunga SBI atau bunga deposito bank (tergantung mana yang lebih tinggi). Ada beberapa penilaian terhadap reksadana tetap ini yang didasarkan pada rata-rata bunga kredit bank, walaupun yang ini kurang umum dipakai.

Reksadana Campuran
Oleh karena reksadana campuran biasanya terdiri dari komposisi antara efek hutang (30-70%) dan saham (30-70%), maka agak sedikit sulit untuk menilai kinerjanya. Biasanya tolok ukurnya menggunakan 50% bunga SBI dan 50% pertumbuhan IHSG.

Reksadana Saham.
Oleh karena reksadana saham biasanya mempunyai komposisi 80-99% saham dan 1%-20% efek hutang, maka kinerja reksadana tersebut didasarkan pada pertumbuhan IHSG misalnya  apabila IHSG tumbuh sebesar 10% , diharapkan NAB tumbuh minimal 10% atau bahkan lebih dari 10% . Sedangkan apabila IHSG turun 10%, maka NAB diharapkan turun MAKSIMUM 10% atau bahkan performance nya diaggap baik bila penurunannya dapat diredam sesedikit mungkin, misalnya hanya 5%.

Contoh performance reksadana saham yang baik:

IHSG 2000 (awal)   => NAB = Rp.2000,- per unit.
IHSG 1800 (turun)  => NAB = Rp.1900,- per unit
IHSG 2000  (kembali asal) => NAB = Rp.2100,- per unit.

Dari ilustrasi diatas terlihat bahwa manajer investasi reksadana tersebut telah bekerja dengan baik, sehingga saat penurunan IHSG, nilai NAB nya hanya turn sedikit, sedangkan saat IHSG kembali ke asal (2000) , NAB justru naik lebih tinggi menjadi Rp.2100,- per unit  ( lebih tinggi drpd saat awal IHSG 2000 => NAB hanya Rp.2000,-)

2. Dibandingkan dengan reksadana sejenis dari perusahaan lainnya.

Hal ini dapat dilakukan dengan membaca laporan yang tercantum di koran bisnis tiap harinya dimana disana tercantum pertumbuhan NAB dalam 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun terakhir. Lalu dibandingkan dengan jenis reksadana sejenis dari perusahaan lain.
Walaupun data histori tidak menjamin performance dimasa mendatang, namun setidaknya kita mengetahui bahwa performance yang telah terbukti di masa lalu untuk reksadana tertentu.

Yang terpenting di ketahui adalah besarnya nilai NAB tidak menjamin performance reksadana tersebut. Dengan kata lain, bukan berarti NAB yang seharga Rp.1300,- dinilai sangat murah dan layak dibeli daripada NAB yang Rp.7000,-. Karena pertumbuhan investasi kita tetap diperhitungkan berdasarkan persentase kenaikan NAB.
Misalnya NAB Rp.7000,- dengan kenaikan Rp.700,- berarti hanya naik 10%, dibandingkan dengan NAB Rp.1300,- cukup naik Rp.130,- untuk bisa naik 10%. (Aswin Hendrato)

 

 

 


Diskusikan artikel ini di forum.


Beri komentar:
Nama

Email

Komentar

Artikel lainnya dikategori ini:

WealthIndonesia.com © 2012.