|
Dampak kisruhnya Sub Prime Mortgage di Amerika Serikat menyebabkan rontoknya indeks harga saham gabungan di Indonesia. Sebetulnya kejadian ini sudah dapat diprediksi sebelumnya oleh AS, dimulai dari tahun lalu sebanyak 8.000an pegawai di sektor keuangan sudah dirumahkan, di akhir Agustus 2007 sebanyak 36.000an pegawai kembali dirumahkan.
Beberapa langkah telah dilakukan oleh beberapa bank di Amerika, antara lain yang dilakukan dengan Bank of America, yang merupakan bank terbesar ke dua di Amerika, telah memastikan menyuntik dana sebesar U$ 2 miliar sekaligus akan menguasai 16% saham Countrywide, yang merupakan kreditor mortgage terbesar dan terkuat di Amerika. Namun bencana ini tetap tidak terbendung, dan mempengaruhi kelesuan ekonomi di beberapa region salah satunya IHSG. Mengantisipasi semakin terpuruknya perekonomian global, di akhir Agustus Presiden Bush memberikan suatu jaminan akan membantu menyelesaikan kasus subprime mortgage di AS. Janji ini telah memberikan reaksi positif bagi perekonomian global termasuk Indonesia. IHSG mulai kembali naik dan pada awal bulan Oktober ini telah mencapai level tertinggi ke posisi 2.500. Mulai bangkitnya kembali gairah bagi Reksadana, Unitlink, dan perusahaan investasi lain untuk menawarkan para kliennya untuk kembali membeli investasinya. Beberapa pengamat ekonomi memprediksikan kenaikan IHSG akan terus berlangsung sampai akhir tahun hingga ke level 2.600an. Hal ini menunjukkan iklim perekonomian di Indonesia masih on the right track dan menawarkan para investor untuk berinvestasi sehingga hal ini dapat terjadi. Namun, beberapa pengamat ekonomi lainnya memberikan opini yang bertentangan bahwa dampak subprime mortgage ini belum selesai, kenaikan harga indeks di beberapa negara hanya merupakan reaksi sesaat terhadap pernyataan Presiden Bush. Melihat dari masih banyaknya tindakan PHK yang dilakukan oleh perusahaan keuangan di Amerika, menunjukkan bahwa sebetulnya krisis ini belum selesai. Perkiraan beberapa fund manager, gejolak akan kembali terjadi di bulan Oktober dimana hasil audit terhadap sub prime mortgage ini diterbitkan, yang diperkirakan sebetulnya kerugian terhadap kasus ini lebih besar dari pada yang selama ini dipublikasikan. Masing – masing pengamat ekonomi memberikan alasan yang berbeda menyikapi kasus ini. Dengan iklim investasi yang belum jelas, banyak investor yang mengambil opportunity dengan short-term investment mengandalkan hukum penawaran vs permintaan atau long-term investment mengandalkan beberapa saham yang akan IPO dengan memprediksikan nilai saham tersebut di masa yang akan dating seharusnya akan lebih tinggi dibandingkan harga IPO. Keputusan akan berada di tangan anda sebagai investor. (Budi Setiawan)
|