Polling
Investasi apa yang anda miliki?
 
Opini





Saya lupa passwordnya?
Belum punya Username & Password? Daftar Baru!

Indonesia Joomla Topsites
Option strategies
Invest money

Ketidakpastian dan Inflasi Membawa Harga Saham Turun

Pada tahun 2008 bukan merupakan tahun yang gemilang bagi investasi di saham. Hal ini tidak segemilang di tahun 2007 dimana IHSG dan sebagian besar saham di Indonesia melesat dengan pesat khususnya bagi saham berbasis komoditas menyusul melesatnya berbagai harga komoditas seperti nikel, timah dan CPO di tahun 2007 lalu.

Menurunnya harga saham di tahun 2008 ini sangat sesuai dengan model valuasi saham Gordon model dengan multiple period. Penurunan harga saham saat ini tak lepas dari sentimen negatif akan perekonomian duinia akibat rontoknya perekonomian AS. Perekonomian AS rontok lantaran meledaknya permasalahan sektor keuangan di AS akibat perilaku subprime mortgage yang berlebihan.

Dengan menggunakan konsep Gordon Model dijelaskan bahwa nilai wajar saham akan meningkat akibat 2 hal secara sederhana. Pertama bila Deviden untuk periode selanjutnya meningkat sehingga return dari saham diprediksi akan meningkat dan pada akhirnya akan mengkerek harga saham. Kedua ialah turunnya required rate return (tingkat imbal hasil yang diinginkan –rrr), hal ini pada akhirnya akan meningkat valuasi dari saham.

Tahun 2008 ini hingga sekarang merupakan tahun yang penuh ketidakpastian dan ancaman inflasi yang tinggi. Ancaman resesi di AS membuat pergerakan pasar keuangan di seluruh dunia menjadi tidak stabil hal ini tentunya akan meningkatkan ketidakpastian. Semakin meningkatnya ketidakpastian membuat investor menaikkan “rrr” dan pada akhirnya akan menurunkan valuasi saham.

Selain itu naiknya harga komoditas terutama harga minyak membuat ancaman inflasi di Indonesia semakin meningkat yang pada akhirnya akan menigkatkan “rrr” dan pada akhirnya akan menurunkan vaulasi atau nilai wajar saham. Hal ini kemungkinan akan bertambah parah bila harga minyak terus naik dan rencana pemerintah yang akan menaikkan harga BBM maksimal 30% pada bulan Mei ini.

Harga Minyak pekan ini sempat menyentuh level tertinggi di US$ 126 perbarelyang merupakan rekor tertingginya sepanjang masa. Hal ini berarti harga minyak telah naik sebesar 77,73% dalam 260 hari terakhir atau 27,09% selama tahun ini. Sehingga lumrah kekhawatiran investor terhadap inflasi menjadi semakin besar sehingga menjadi sentimen negatif bagi saham di Indonesia.

Inflasi yang meningkat tentunya akan membuat perlambatan perekonomian. Pemerintah Indonesia dan berbagai lembaga keuangan internasional pun telah memperediksi bahwa perekonomian indonesia di tahun 2008 akan mengalami perlambatan. Perlambatan perekonomian tentunya akan membuat kinerja emiten – emiten di Indonesia akan melemah. Pelemahan kinerja tersebut tentunya akan membuat ekspektasi deviden kedepan akan melemah sehingga harga saham turun berdasrkan model Gordon

Kedepan investor sebaiknya mengkoleksi saham – saham berbasis outward looking atau berorientasi ekspor dan juga saham – saham yang cenderung defensif agar nilai saham tidak tergerus akan inflasi dan ketidak pastian. Saham –saham dengan PER (Price to Earning Ratio) yang rendah atau bahkan single digit tentunya dapat dikoleksi investor dengan memperhatikan prospsek emiten yang bersangkutan kedepan dan juga resiko –resiko yang ada. (M. Agus Reza)

 

 

 

Diskusikan artikel ini di forum.


Beri komentar:
Nama

Email

Komentar

Artikel lainnya dikategori ini:

WealthIndonesia.com © 2012.