|
Untuk kebutuhan jangka panjang, saham menjadi alternatif investasi yang berpeluang memberi return tertinggi. Bagaimana cara berinvestasi di instrumen beresiko tinggi ini? Dalam konsep Financial Planning, seorang financial planner akan menghitung kebutuhan keuangan masa depan dengan menggunakan tingkat inflasi untuk mengantisipasi kenaikan harga dan biaya dalam jangka panjang.
Apabila kita hanya menabung di instrumen keuangan konvensional seperti tabungan ataupun deposito maka hasil investasinya mungkin saja akan lebih kecil dari pada inflasinya. Sehingga untuk tujuan keuangan jangka panjang menjadi kurang cocok. Salah satunya adalah dengan berinvestasi saham. Saham bisa dibilang sebagai salah satu instrumen keuangan yang sangat cocok untuk dipergunakan sebagai sarana investasi jangka panjang. Walaupun dalam jangka pendek akan terjadi volatilitas harga namun dalam jangka panjang selalu menunjukan kecenderungan positif. Walaupun sangat cocok untuk jangka panjang, namun belum tentu dapat diterima oleh semua masyarakat atau investor. Karena saham itu mempunyai fluktuasi harga yang sangat dinamis sehingga bagi orang yang mempunyai tingkat penerimaan atas resikonya rendah atau cenderung konservatif tentunya harus mempertimbangkan lagi keputusannya berinvestasi di saham. Namun apabila orang tersebut mempunyai tingkat pemahaman atas resiko investasi cukup tinggi, instrumen ini sangat menjanjikan. Apalagi disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan keuangan jangka panjang. Ada beberapa keuntungan berinvestasi di saham: 1. Mendapatkan deviden. Seperti layaknya apabila kita memiliki suatu perusahaan tertentu maka sebagai pemilik tentunya kita ingin mendapatkan apa yang disebut pembagian keuntungan perusahaan atau deviden. Jumlah dari deviden yang akan dibagikan tergantung dari keuntungan perusahaan, rencana bisnis kedepan serta harus diputuskan dalam RUPS. 2. Capital Gain. Apabila ada selisih harga antara harga jual yang lebih tinggi dari harga belinya. Dalam bahasa dagangnya, untung kalau beli dengan harga lebih endah dari harga jual. Namun selain ada keuntungan juga ada potensi resikonya. Ada beberapa resiko yang perlu diperhatikan dalam berinvestasi saham yaitu: 1. Tidak ada pembagian deviden. Terjadi apabila suatu emiten jika tidak membukukan laba atau mungkin saja membukukan laba namun pada saat RUPS memutuskan untuk tidak membaginya. 2. Capital loss. Adalah selisih antar harga beli yang lebih tinggi dari harga jual. 3. Resiko kebangkrutan. Bisa timbul apabila emiten tersebut selama manawarkan sahamnya di pasar modal mempunyai kinerja yagn buruk dan akhirnya harus dilikuidasi maka saham yang dimiliki oleh para investor mungkin saja tidak ada nilainya lagi. 4. Delisting dari bursa efek. Ada kemungkinan suatu emiten ingin keluar dari bursa efek atas keinginan sendiri atau mungkin saja emiten tersebut tidak memenuhi syarat dan ketentuan dari bursa efek sehingga emiten tersebut harus dikeluarkan dari bursa efek. (Stefanus Pratama)
|