|
Survey AC Nielsen bekerjasama dengan Citibank menemukan, sebagian besar kalangan profesional, manager, eksekutif, dan businessman (PMEB) yang berpopulasi sekita 1.000.000 orang ini dimana berpenghasilan Rp.20 juta – Rp.30 juta perbulan ternyata belum dapat membuat perencanaan keuangan untuk masa pensiunnya. Hanya 20% dari mereka yang telah melakukannya. Sisanya 80% justru berencana membeli mobil baru, merenovasi rumah, dan kegiatan konsumtif barang mewah lainnya, serta pola hidup yang berfoya foya.
Apabila pola konsumsi yang berlebihan ini dibiarkan, akan berakibat mereka miskin, sengsara dan merana secara keuangan di hari tua. Hal ini juga ditandai dengan meningkatnya penjualan produk premium/high class di Indonesia baik dari property (apartemen dan rumah tinggal), kendaraan, dan produk elektronik/gadget dan fashion lainnya seperti perhiasan dan pakaian. Jika diukur dari pendapatan dan pengeluarannya maka dirasa hampir tidak mungkin untuk menutupi biaya sebesar itu, maka hal ini dimanfaatkan sangat baik oleh lembaga pembiayaan melalui paket kredit konsumtif. Artinya, selama ini banyak sekali kalangan PMEB yang bergaya hidup boros dan mematok standar hidup mereka terlalu tinggi, jauh melebihi batas kemampunan financialnya. Jika pendapatan mereka habis dikonsumsi setiap bulan, praktis tidak tersisa lagi dana untuk ber investasi. Pola konsumtif ini dipicu oleh kondisi internal maupun eksternal (linkungan): a. Budaya/culture orang Indonesia bergaya konsumtif karena gengsinya tinggi b. Ketidaktahuan PMEB membedakan arti menabung dan berinvestasi c. Adanya opini OKB (orang kaya baru) dan OKL (orang kaya lama) dimana OKL tingkat konsumsinya dan strategi pengelolaan uangnya sudah lebih terstruktur rapi, dan mereka sudah terbiasa akan menempatkan dan membelanjakan uangnya. Sedangkan OKB berperilaku lebih konsumtif dimana mereka masih membutuhkan pengakuan dari masyarakat lingkungan sekelilingnya atas status dan predikat barunya tsb. Yang menarik kebanyakan kalangan OKL biasanya bersikap amat sederhana dan low profile serta tidak mau pemer kekayaan. Faktor yang dapat memicu minimnya kepedulian atas perencanaan keuangan masa depan seperti: a. Faktor budaya, yang terbiasa hidup anti perencanaan, serta pola pikir dan perilaku hidup pasrah menerima suatu kenyataan tanpa memperjuangkannya. b. Belum terdapat persepsi dan alat ukur yang tepat tentang arti kaya (rich) dan kemapanan (wealth), dimana masyarakat kita lebih menghargai kekayaan seseorang dibanding dengan kemapanannya. Dimana terdapat asumsi bahwa orang kaya belum tentu mapan. c. Minimnya edukasi tentang bagaimana mengelola keuangan pribadi/keluarga secara tepat, baik dan benar. (Jesse Octaviano)
|