|
Disamping financial check up, financial planner kita juga perlu mengetahui bagaimana siklus dari investasi tersebut.
Tiga siklus hidup investasi: a. Tahap Akumulasi Jika seseorang berusia 25-35 tahun dan tengah memulai karier atau dalam tahap pertengahan perjalanan karier, biasanya seseorang akan berusaha mengakumulasikan asset untuk tujuan jangka pendek, misalnya tujuan kredit rumah atau kendaraan, atau untuk biaya kelahiran dan pendidikan anak. Pada posisi ini kekayaan seseorang masih sedikit dengan porsi hutang yang cukup lumanyan tinggi. Mengingat tingkat penghasilan pada fase ini akan bertumbuh dan faktor usia yang masih relative muda, seseorang biasanya akan melakukan investasi resiko tinggi dengan harapan memperoleh imbal hasil yang tinggi pula. b. Fase Konsolidasi Seseorang dengan usia 35-55 tahun dan berada pada pertengahan dan akhir perjalanan karier, biasanya seseorang telah melunasi hampir seluruh hutangnya dan memiliki sejumlah asset untuk membiayai pendidikan anak. Penghasilan pada fase ini seharusnya sudah melebihi pengeluaran, sehingga sisanya dapat digunakan persiapan masa pensiun. Investasi yang sesuai adalah investasi dengan resiko yang moderat akan memiliki daya tarik sendiri. c. Fase Pembelanjaan Fase ini disaat individu telah memasuki usia pensiun yakni usia 55 tahun keatas. Biaya hidup diharapkan dapat dihasilkan dari hasil investasi pada fase sebelumnya. Pada fase ini, investasi yang dapat ditoleransi sebaiknya yang memiliki tingkat resiko lebih rendah dibanding fase sebelumnya. Pada fase ini pula, biasanya seseorang telah dapat menikmati ”hidup”, namun banyak pula – khususnya Asian Type dimana terdapat syndrom bekerja seumur hidup, jadi walaupun sudah tidak lagi produktif secara formil, mereka masih berkarya dalam hal mengembangkan hobby dan mengisi waktu luang. Karena memang tidak mudah mengubah irama aktivitas harian selama kurang lebih 35 tahun. Contoh portofolio Investasi berdarkan tingkat toleransi investor terhadap resiko TIPE INVESTOR INVESTASI "X" INVESTASI "Y" INVESTASI "Z" INVESTOR A 90% 0% 10% INVESTOR B 80% 10% 10% INVESTOR C 60% 30% 10% INVESTOR D 20% 60% 20% INVESTOR E 0% 20% 80% Investasi ”X” adalah Saham / Reksa Dana Saham Investasi ”Y” adalah Obligasi / R.D Pendapatan Tetap Investasi ”Z” adalah Deposito, SBI, Sekuritas, atau R.D Pasar Uang Investor A : toleransi yang tinggi terhadap resiko dan berinvestasi secara agresif. Investor B : mirip dengan investor A, tetapi memiliki toleransi terhadap resiko yang lebih rendah. Investor C : memiliki toleransi terhadap resiko yang lebih rendah dibanding B Investor D : investor konservatif yang mengharap lebih banyak penghasilan periodik dari investasi Investor E : investor yang lebih mengutamakan keamanan secara ekstrem menghidari suatu resiko (Jesse Octaviano)
|