|
Setelah melakukan financial check up maka selanjutnya kita harus memiliki perencanaan keuangan (financial plan) yang tepat.
The Basic Financial Planner Theory Terdapat 9 prinsip dasar dalam financial planner yang dapat diterapkan: a. mengubah paradigma untuk berorientasi ke arah kemapanan financial dan bukan kekayaan semata. b. Memahami tujuan (hidup) dalam beberapa tahun kedepan c. Mampu mengelola asset dan liabilities yang sesuai dengan tujuan investasi d. Memanage dan memaintain cash flow pribadi dan menyiapkan emergency fund e. Segera mengeksekusi perencanaan keuangan yang telah ditetapkan f. Berinvestasi secara bijak untuk memaksimalkan keuntungan g. Pengendalian diri sendiri (self control) dalam hal batas toleransi atas resiko h. Melindungi tujuan investasi dengan berkolaborasi dengan asuransi i. Mengintegrasikan perencanaan tabungan, investasi, dan proteksi keuangan Pembagian investasi dapat dikatagorikan sebagai: a. Investasi Jangka Panjang dengan durasi diatas 10 tahun Produk yang sesuai adalah saham, reksa dana saham & campuran, asuransi dengan unsur investasi (tax planning dan estate planning), properti (rumah, tanah, apartemen), emas, logam mulia, berlian, valas, dan barang koleksi b. Investasi Jangka Menengah dengan periode 3-10 tahun Jenisnya dapat reksa dana campuran, reksa dana pendapatan tetap, emas, asuransi dengan investasi, bisnis waralaba, dan berlian. c. Investasi Jangka Pendek dengan jangka waktu 1 sampai 3 tahun Contohnya; reksa dana pendapatan tetap, reksa dana pasar uang, asuransi investasi, atau asuransi whole life. d. Investasi Dana Darurat dengan masa dibawah satu tahun Katagorinya; tabungan, deposito, dan reksa dana pasar Yang jelas dan pasti dalil investasi ”high risk high gain dan low risk low return” serta “no investment without risk” akan selau tetap berlaku, maka pemilihan alternative investasi harus disepadankan dengan kemampuan individu tersebut untuk menanggung resiko. Dalam hai ini individu tersebut harus mengenal karakter pribadinya yakni ’risk taker / risk seeker’ atau ’safety player/risk averse’ Toleransi terhadap resiko ditentukan oleh berbagai faktor antara lain: jumlah tingkat kekayaan, pengalaman, pengetahuan tentang investasi, usia, dan status perkawinan, jumlah besarnya dana yang menganggur. (Jesse Octaviano)
|