|
Pada saat suatu perusahaan (PT ZZZ) menerbitkan Surat Utang (Bond), perusahaan tersebut dapat menerbitkan surat hutang (bond) biasa dengan jangka waktu dan dengan tingkat bunga tertentu.
Misal bond diterbitkan sebesar Rp 100 milyar dengan bunga 10% per tahun untuk jangka 15 tahun. Maka setiap tahun akan dibayar coupon bunga, dan pada akhir tahun 15 akan dibayar pokok dan bunga coupon terakhir. Seperti yang disebutkan diatas adalah bond biasa. Namun untuk lebih menarik para investor, bisa saja PT ZZZ itu menerbitkan bond dengan Option Convertible Bond, artinya surat utang (bond) itu dapat dikonversikan menjadi saham untuk suatu jangka waktu tertentu dengan harga tertentu, bila investor itu ingin melakukannya. Contohnya PT ZZZ menerbitkan bond sebesar Rp.100 milyar dengan bunga hanya 9% p.a untuk jangka 15 tahun, padahal bunga pasar pada saat itu 10% per tahun. Tentunya penawaran ini kurang menarik. Untuk dapat menarik investor, PT ZZZ dapat menerbitkan bond dengan Option Convertible Bond, dimana diberikan hak (bukan kewajiban) bagi pada investor bahwa mereka dapat mengkonversikan bond yang mereka pegang itu menjadi saham perusahaan. Jadi para investor dapat menganalisa lebih dalam, apakah menguntungkan membeli bond dengan bunga hanya 9% per tahun (10% lebih rendah dari bunga pasar saat ini = (10%-9% ) dibagi 10%, namun memiliki hak untuk mengkonversikan bond itu menjadi saham. Bagaimana bila PT ZZZ kinerjanya membaik dalam 5 tahun kemudian menaikan harga sahamnya sebesar 20% pertahun ? Bagi pihak PT ZZZ, ini juga suatu keuntungan bagi mereka, karena mereka menerbitkan bond dengan beban bunga yang lebih rendah sehingga tentunya akan memperlancar cash flow projection mereka, namun mereka memberikan hak kepada para investor untuk menikmati margin harga saham di masa yang akan datang. Sehingga kepentingan PT ZZZ dan investor sama-sama untung. (Sandra Metta HS)
|