Polling
Investasi apa yang anda miliki?
 
Opini





Saya lupa passwordnya?
Belum punya Username & Password? Daftar Baru!

Indonesia Joomla Topsites
Option strategies
Invest money

Analisa Kepailitan Usaha (Bankruptcy)

”Dalam sidang Pengadilan Niaga, 4 September, majelis hakim yang diketuai Andriani Nurdin memutuskan PT DI pailit. Perusahaan itu dinilai tidak mampu membayar utang, berupa kompensasi, manfaat pensiun, dan jaminan hari tua kepada eks karyawannya yang diberhentikan sejak 2003 (Kompas, 5/9).”

Pernyataan dialinea atas menggambarkan bahwa suatu perusahaan dapat dianggap bangkrut karena tidak memenuhi banyak hal dan yang biasanya ditunjukan dengan adanya sinyal-sinyal ”financial distress”. Kerugian perusahaan mulai membesar, kesulitan kemampuan membayar tingkat suku bunga, kesulitan pembayaran pembiayaan kegiatan operational sehari-hari, Net working capital menjadi negatif, jumlah pinjaman semakin menunjukan peningkatan.

Suatu perusahaan yang bergerak dibidang apapun, baik besar ataupun kecil, dimanapun dia berada, perusahaan yang go-public ataupun yang tidak listing di bursa dapat mengalami suatu kebangkrutan. Banyak hal yang menyebabkan  terjadinya kemunduran/kemerosotan dari suatu perusahaan, antara lain :
• Poor management,
Perusahaan tidak dikelola dengan baik atau kurang pengalaman, kurang kompeten
• Unwise expansion,
Pengembangan usaha yang tidak didukung dengan analisa feasibbility study dan menggunakan ”perasaan”
• Intense competition
Adanya persaingan yang ketat/hebat dalam industri dimana perusahaan bergerak. Bila tidak diikuti dengan perubahan yang ada maka perusahaan akan langsung mengalami kemerosotan
• Too much debt
Hutang yang menumpuk yang tidak diantisipasi kemampuan pembayarannya mengakibatkan keuntungan dan modal akan terseret menutupi hutang saja
• Massive litigation
Adanya tuntutan yang besar-besaran, seperti: demonstrasi, tuntutan hukum dan perpajakan
• Unfavorable contracts
Perjanjian/kontrak yang banyak gagal atau tidak dapat dipenuhi perusahaan

Survey dari Dun & Bradstreet’s mengatakan bahwa 94% bisnis itu gagal dikarenakan kurangnya pengalaman manajemen, dan kurangnya kompetensi bisnis dalam menghadapi perubahan industrinya.

Kebangkrutan suatu perusahaan dapat dideteksi lebih dini apabila kita dibekali dengan informasi-informasi pasar dan analisa terhadap keuangan perusahaan. Model yang banyak dipakai dalam pendeteksian lebih dini dari kemerosotan suatu perusahaan/bisnis
dengan rumusan yang dikenal dengan sebutan Z-Score Model

Z = 0,012X1 + 0,014X2 + 0,033X3 + 0,006X4 + 0,999X5

Z-score model ini didasari oleh 5 rasio financial, dimana:

X1 = Net working capital/total assets
X2 = retained earnings/total assets
X3 = earnings before interest and tax/total assets
X4 = market value of equity/book value of total liabilities
X5 = sales/total assets
Z  = Z-score

Range Z-score ini memiliki 3 interval dalam menjawab kemerosotan dari suatu perusahaan yaitu:

 Z> 2,99 Perusahaan tidak akan bangkrut dalam 1 tahun 
 1,81 <= Z <= 2,99 Perusahaan berada diantara kemampuan hidup dan menuju kebangkrutan
 Z < 1,81 Perusahaan akan bangkrut dalam 1 tahun

(Ludi Harjanto S)

Diskusikan artikel ini di forum.


Beri komentar:
Nama

Email

Komentar

Artikel lainnya dikategori ini:

WealthIndonesia.com © 2012.