Polling
Investasi apa yang anda miliki?
 
Opini





Saya lupa passwordnya?
Belum punya Username & Password? Daftar Baru!

Indonesia Joomla Topsites
Option strategies
Invest money

Mengelola Uang Dengan Logika

Uang tidaklah akan pernah cukup, dan kebutuhan serta tingkat kepuasan manusia tidak akan pernah ada batasnya. Ungkapan semacam ini akan selalu kita jumpai. Bagaimana dengan diri kita sendiri, maupun lingkungan sekitar kita dalam hal memandang uang. Apakah kita akan pernah puas dengan tingkat penghasilan kita per bulan, walaupun sudah berkali lipat dibandingkan dengan beberapa waktu lalu.

Walaupun sebagian dari kita mengatakan bahwa kondisi pada saat ini sudah jauh lebih baik, namun jika dilkukan survei untuk mencari jawaban atas pertanyaan diatas, dapat dipastikan mayoritas jawaban responden akan mengatakan mereka masih terus berusaha untuk meningkatkan penghasilan mereka, karena tingkat kepuasannya belum terpenuhi, walaupun tingkat kebutuhan dasarnya mungkin sudah terpenuhi.

Kalau dikaji lebih dalam, tingkat kepuasan bagaikan langit, dan diatasnya langit masih terdapat langit yang lebih tinggi lagi. Jadi batasan sebenarnya adalah di benak/ mindset kita, dimana setiap individu berbeda dalam hal tolok ukurnya, bukan pada realitas yang bersifat relatif dan sementara.

Dan hal ini berdampak pada pemahaman yang keliru terhadap uang, yang sering terjadi adalah pe’maha’an uang. Demi uang, seseorang rela melakukan tindak kejahatan, korupsi, manipulasi, atau bahkan menindas hak orang lain.
Uang telah menjadi suatu ideologi yang dapat menghilangkan makna kemanusiaan.

Pertanyaannya; apakah selama ini kita menganggap uang adalah segalanya. Walaupun dikatakan bahwa segalanya menggunakkan uang, atau uang yang dapat membuat dunia berputar. Namun, lebih bijaksana lagi, apabila uang yang kita miliki dapat bermanfaat bagi diri kita sendiri dan dapat menolong orang lain. Karena terdapat fakta bahwa uang tidak dibawa ’mati’, dan uang hanya merupakan titipan dari Tuhan, sehingga bagaimana kita mengelolanya dengan benar dan bijaksana.

Atau dengan kata lain bahwa bagaimana mengelola uang dengan logika untuk mencapai tujuan keuangan demi memperoleh manfaat dan fungsi dari tujuan keuangan itu sendiri.Misalnya, kita membutuhkan uang untuk makan agar tidak merasa lapar. Atau kita memburtuhkan rumah untuk tempat tinggal. Singkatnya, semuanya memiliki fungsi masing masing dan sebabnya kita menjadikan hal tersebut sebagai tujuan keuangan.

Uang sebatas alat
Ketika dikaitkan dengan fungsi uang, maka uang hanyalah sebatas alat untuk melakukan sebuah transaksi. Setiap manusia mencari uang sebagai cara untuk mencapai tujuan keuangan. Misalnya membeli sebuah mobil sebagai alat transportasi. Masalahnya apakah kemudian masih berkeinginan untuk menambah mobil baru atau mengganti mobil lama kendati mobil lama masih berfungsi cukup baik. Hal ini dapat terjadi karena tujuan membeli mobil berikutnya bukkan atas dasar fungsi melainkan atas dasar mencari nilai lain, anatara lain mencari gengsi. Padahal, gengsi itu hanya di dalam persepsi setiap indivisu. Orang lain mungkin beranggapan biasa saja.

Pada saat kondisi tersebut, yang mendorong untuk melakukannya adalah bukan lagi logika, melainkan ’nafsu’ semata. Ketika nafsu tersebut tidak dikelola dengan logika, akhirnya akan bermuara pada kehidupan yang kurang atau tidak nyaman.
Apabila kita berkeinginan untuk memiliki uang segudang, dan telah tercapai, maka apa yang akan kita rasakan? Kepuasan? Belum tentu,. Semuanya itu bisa menjadi biasa biasa saja. Seperti seseorang yang sedang kehausan. Pada saat merasakan segelas air terasa nikmat, namun ketika meminum gelas kedua dan seterusnya, kenikmatan itu sudah mulai berkurang dan sesudah meminum sepuluh gelas air mungkin yang terasa hanya ingin muntah atau minimal kembung.

Maknanya, semua kebutuhan dan keinginan yang ingin dipenuhi hendaknya didasarkan pada asas manfaat. Jika manfaatnya berkurang, maka sebanyak apapun uang yang dimiliki dan apapun yang dibelanjakan dengan uang itu, akhirnya menjadi tidak berfungsi lagi, atau fungsinya mungkin sudah tidak maksimal lagi.

Cukup
Moral dari tulisan diatas adalah sangat sederhana; tidak benar uang yang kita miliki tidak pernah cukup. Berapapun kecilnya uang di dompet, ataupun di tabungan, pada dasarnya adalah cukup. Yang membuat uang tersebut tidak cukup adalah persepsi dan keinginan kita terhadap banyak hal yang diluar jangkauan kemampuan finansial kita, dan yang terkadang melewati batas fungsi serta menjadi tidak berdasarkan logika.

Agar tidak terjebak pada hilangnya makna hidup, maka ketika mencari dan mengumpulkan uang, maka didasarkan dahulu pada tujuan mencari uang, sebab jumlah uang yang besar tidak selalu memberikan kebahagiaan dan manfaat.

Adalah tepat apabila dikatakan uang adalah alat tukar dalam bertransaksi dan memperoleh tujuan keuangan. Tujuan keuangan harus didasarkan pada fungsinya. Dan berdasarkan fungsi berarti menggunakkan logika dan akal sehat.

Keberhasilan mengelola uang sebenarnya adalah mampu menggunakkannya dengan logika. Dan bukan berarti tolok ukur kebehasilan hanya dinilai dari besarnya jumlah uang yang dimiliki. (Jesse octaviano)

Diskusikan artikel ini di forum.


Beri komentar:
Nama

Email

Komentar

Artikel lainnya dikategori ini:

WealthIndonesia.com © 2012.